Krisis politik di Mesir terus berlanjut, bahkan mulai merembet ke negara lain. Diperkirakan harga ‘emas hitam’ atau minyak bakal meroket. Pemerintah diminta segera merevisi harga minyak.
“Sebaiknya asumsi harga minyak di APBN direvisi kembali. Harga minyak 80 dolar AS sudah tak realistis. Harusnya 90 dolar AS/barel,” kata Pengamat perminyakan Kurtubi ketika dihubungi, Sabtu (5/2).
Dia memprediksikan tren harga minyak dunia ke depan bakal terus bergolak. Bisa mencapai 110 dolar AS/barel.
Dan bukan tidak mungkin harga ‘emas hitam’ ini akan melaju ke level 120 dolar AS/barel, kalau krisis politik di Mesir sampai mengganggu Terusan Suez.
Bahkan harga minyak makin meroket, jika eskalasi politik yang terjadi di Mesir merambat ke negara lain di Jazirah Arab.
Saat ini krisis politik serupa menentang pemerintah otoriter juga terjadi di Tunisia dan Yaman.
Kalau situasi politik seperti di tiga negara tersebut sampai merembet ke Arab Saudi, krisis minyak bakal terjadi. “Ini yang saya khawatirkan. Tidak mustahil harga minyak bisa bergerak ke kisaran 150 dolar AS hingga 200 dolar AS/barel,” jelasnya.
Sehingga pada April mendatang, Kurtubi memperkirakan harga jual Pertamax bisa dikisaran Rp9.000, bahkan Rp10.000/liter. Kalau pembatasan BBM bersubsidi diberlakukan di tengah harga Pertamax sebesar itu, ia memastikan inflasi bakal meroket. “Kegiatan ekonomi berjalan lelet. Hidup rakyat kian tergencet,” ucapnya.
Karena itu, Kurtubi mengingatkan pemerintah agar mempertimbangkan dengan matang untuk memberlakukan pembatasan BBM bersubsidi pada April mendatang.
Sumber: Kompas.com

0 comments:
Post a Comment